PONTIANAK – Polresta Pontianak gencar lakukan razia untuk mencegah terjadinya pelibatan anak-anak dalam prostitusi pada malam tahun baru.

Polisi membongkar rencana 59 anak-anak yang dipesan’ untuk acar tahun baru. “(Rencana) 59 (prostitusi anak) itu yang ketahuan, yang tidak ketahuan ada juga. Makanya mau kita intenskan. Kita akan gelar kekuatan penuh mengantisipasi malam tahun baru. Salah satunya ya itu, praktik prostitusi anak,” kata Kapolresta Pontianak Kombes Komarudin saat dihubungi, Kamis (17/12/2020).

Jumlah anak-anak akan dilibatkan dalam praktik prostitusi tersebut dipicu ‘diskon’ yang dibuat muncikari. Tarif Rp 300 ribu sekali kencan, diturunkan menjadi Rp 150 ribu. Praktik prostitusi yang melibatkan anak-anak ini dilakukan secara online. Para pemesan melakukan booking online (BO).

“Ya (ada semacam diskon), bahasanya sudah bahasa komersial,” ujarnya.

Dia mengatakan kasus tersebut terungkap setelah 28 orang diamankan di salah satu hotel di Pontianak. Dari lokasi tersebut, 10 orang yang diamankan di antaranya adalah anak-anak.

“Jadi dari hasil penangkapan kemarin, kita periksa seluruh sarana komunikasi mereka. Dan di sana kita dapatkan rencana itu. Mudah-mudahan dengan upaya yang kita lakukan bisa meminimalisir dan ini sudah kita mapping,” kata dia.

Kombes Komarudin mengatakan pada hari ini Polresta Pontianak pun menangkap 2 perempuan dan 2 laki-laki dari salah satu penginapan di Pontianak. Polisi masih mendalami peran dan unsur pelanggaran pidana, termasuk 28 orang yang diamankan lebih awal.

“Sudah 5 mengarah ke muncikari. Dan untuk anak-anak kita titipkan ke shelter atau safe house milik provinsi untuk dilakukan pembinaan. Baru nanti dikembalikan ke orang tua,” ungkapnya.

Polisi, lanjutnya, berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan juga Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPAD) untuk memerangi praktik prostitusi anak. Aparat juga meminta hotel dan indekos untuk kooperatif.

Dia mengatakan upaya razia secara intens dilakukan untuk mencegah lebih banyak anak-anak terjebak dalam praktik prostitusi. Dia mengatakan banyaknya razia yang dilakukan sebagai bentuk keseriusan menjamin Pontianak sebagai kota layak anak.

“Kota Pontianak memang kota layak anak karena menandakan aparat penegak hukum benar-benar melindungi. Dengan intensnya kita melakukan razia itu sebagai bentuk jaminan keamanan. Jadi siapa saja lakukan kejahatan terhadap anak, apakah itu penganiayaan, termasuk kejahatan seksual terhadap anak akan kita sikat,” tegasnya.(IS-Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!